Inspiratif! Peneliti ITB Bikin Alat Deteksi Bencana Banjir Lewat HP

ASISTEN II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jabar Eddy Iskandar Muda Nasution, didampingi Direktur Zurich Insurance Indonesia Wirahadi Suryana, serta Kepala International Federation of Red Cross and Red Crescent Socities (IFRC) Giorgio Ferrario meluncurkan aplikasi FEWEAS. FOTO: RAMDHANI/ RADAR BANDUNG

ASISTEN II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jabar Eddy Iskandar Muda Nasution, didampingi Direktur Zurich Insurance Indonesia Wirahadi Suryana, serta Kepala International Federation of Red Cross and Red Crescent Socities (IFRC) Giorgio Ferrario meluncurkan aplikasi FEWEAS. FOTO: RAMDHANI/ RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Institut Teknologi Bandung (ITB) merilis aplikasi sistem peringatan dini resiko banjir Citarum bernama Flood Early Warning and Early Action System (FEWEAS).

Aplikasi tersebut dinilai mampu memprediksi secara real-time potensi bencana dan cuaca yang terjadi selama tiga hari ke depan.

Ketua Tim Peneliti ITB, Armi Susandi mengatakan, hadirnya aplikasi FEWEAS merupakan kerja sama dengan sejumlah pihak. Berkat kerja sama itu, imbuh Armi, lahirnya inovasi baru yang dapat membantu dalam penanganan bencana.

“FEWEAS ini mampu mendeteksi bencana banjir di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum selama tiga hari ke depan bahkan mampu mengetahui status dan tinggi genangan,” ucap Armi usai lounching aplikasi FEWEAS di Hotel Novotel, Kota Bandung, Senin (11/12/2017).

Baca Juga:

Jabar Raih Penghargaan Pemerintah Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi

Ridwan Kamil Sarankan Ojek Pangkalan Manfaatkan Teknologi

Armi menjelaskan, dengan aplikasi tersebut pemerintah bisa dengan sigap menetapkan siaga bencana secara real-time sebelum terjadi. Bahkan warga yang sudah mendownload bisa langsung mengantisipasi lebih cepat untuk mengungsi dari wilayah benacana.

“Jika warga sudah mendownload artinya warga dan pemerintah bisa langsung mengambil sikap. Warga cepat mengungsi dan pemerintahan langsung turun membantu,” terangnya.

Kata Armi, selain manfaat pendeteksi banjir, aplikasi ini juga dapat memudahkan rencana pembangunan pemerintah disektor pertanian. FEWEAS bisa menetapkan masa tanam bagi para petani lantaran dapat mendeteksi perubahan cuaca dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Baca Juga:

Mau Tahu Teknologi Virtual Reality di Museum Gedung Sate? Masuk Sini

Pengembangan Teknologi Pertahanan Tidak Bisa Jalan Sendiri-sendiri

“Misalnya, petani bisa memprediksi kapan harus melakukan masa tanam agar terhindar kendala cuaca,” terangnya.

Armi mengaku, riset aplikasi FEWEAS dilakukan sejak Februari 2017. Total biaya proses penelitian hingga peluncuran, kata Armi, tak kurang dari Rp 1 miliar sudah termasuk pembelian server yang terpusat di kampus ITB.

“Nilai tersebut tidak terlalu mahal Jika dibandingkan dengan anggaran penanggulangan bencana yang bisa menyentuh angka Rp 250 Miliar per tahun,” tuturnya.

Sebelumnya, sambung Armi, ITB pernah melaunching aplikasi FEWEAS generasi pertama untuk mendeteksi banjir di Sungai Bengawan Solo pada 2015 lalu.

loading...

Feeds