Hore! 2018 Alokasi Dana Desa untuk Penguatan Budaya Lokal Jadi Sebesar Ini

Staf Khusus Kemendesa PDTT Syaiful Huda di sela Deklarasi Gerakan Nasional Komunitas Desa di Sekretariat Komunitas Hong, Jalan Bukit Pakar Dago, Kabupaten Bandung. Foto: Atep K/Pojokbandung

Staf Khusus Kemendesa PDTT Syaiful Huda di sela Deklarasi Gerakan Nasional Komunitas Desa di Sekretariat Komunitas Hong, Jalan Bukit Pakar Dago, Kabupaten Bandung. Foto: Atep K/Pojokbandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Di tahap awal pembangunan desa pada 2014 hingga 2017, 80% alokasi dana desa diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur.

Namun, mulai 2018 tahun depan, Kemendesa siap mengalokasikan 40% anggarannya untuk pembangunan budaya lokal.

“Tiga tahun ini, pelaksanaan undang-undang desa (UU No. 6/2014) lebih ke infrastruktur karena memang ada target dari pemerintah,” tutur Staf Khusus Kemendesa PDTT Syaiful Huda, usai Deklarasi Gerakan Nasional Komunitas Desa di Sekretariat Komunitas Hong, Jalan Bukit Pakar Dago, Kabupaten Bandung, Kamis (7/12/2017).

“Mulai tahun depan, dana desa akan merambah ke penguatan budaya lokal, termasuk ekonomi kreatifnya. Kita berharap 40-60 lah karena memang infrastruktur masih dibutuhkan,” lanjutnya.

Menurutnya, Kemendesa PDTT akan menjadikan komunitas desa sebagai lokomotif pembangunan demi penguatan budaya lokal. Tujuannya, demi menghidupkan kembali tradisi permainan tradisional sebagai akar budaya bangsa.

Baca Juga:

Polda & Pemprov Jabar Pelototi Serapan Dana Desa

Di Bandung, Pak Menteri Minta Pondok Pesantren Aktif Awasi dan Kawal Penggunaan Dana Desa

“Kami bersyukur ada komunitas yang mau berkolaborasi dengan kementerian untuk menghidupkan kembali dolanan desa,” katanya.

Ia menilai, permainan tradisional kaya akan filosofi kehidupan, salah satunya sifat saling menghargai. Permainan tradisional juga menjadi wujud jati diri anak bangsa di tengah rentannya keutuhan nilai-nilai kehidupan tersebut.

Kemendesa PDTT pun kemudian mengutus Komunitas Hong yang dinilai telah berhasil menghidupkan kembali permainan tradisional, untuk mengembangkan permainan tradisional di seluruh pelosok tanah air. Ia berharap, permainan tradisional sebagai akar budaya bangsa bisa menjadi pintu gerbang penguatan budaya lokal di Indonesia.

“Jadi, benteng itu di desa, akan kita gali melalui komunitas-komunitas, seperti Komunitas Hong,” tegas Huda.

Baca Juga:

Ayi Hambali Jaring Aspirasi Terkait Dana Desa, Koperasi, UMKM di Jabar

Menteri Desa Akui, Dana Desa Awalnya Sempat Terseok-sekok

Dalam kesempatan itu, Ketua Komunitas Hong, Zaini Alif mengaku bersyukur atas perhatian Kemendesa. Permainan tradisional menurutnya menjadi pintu gerbang untuk menggali budaya lokal demi kemajuan desa.

“Masyarakat kita makin berbudi,” ujar Alif.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang kaya akan permainan tradisional. Bahkan jumlah permainan tradisional di Indonesia mencapai 2.600 permainan, merupakan terbesar di dunia.

“Orang tua sekarang kadang-kadang menganggap permainan tradisional hanyalah sebuah hal yang main-main dan tidak berguna. Mengapa anak-anak kita meninggalkan, karena mereka tidak dikenalkan,” tandasnya.

(atp/pojokbandung)

loading...

Feeds