Geliat Pembangunan Jabar Melalui Biji Kopi

Aktivitas di Kedai Kopi Bako, Jalan Manisi, Bandung. Foto: Istimewa

Aktivitas di Kedai Kopi Bako, Jalan Manisi, Bandung. Foto: Istimewa

PEMBANGUNAN fisik seperti jalan tol, bendungan, bandara, maupun pelabuhan sangat penting dalam menopang sektor ekonomi. Tetapi, pembangunan perkebunan tak kalah pentingnya. Dan, Jawa Barat (Jabar) punya potensi itu, salah satunya membangun perekonomian lewat perkebunan kopi.
========================
Bahi Binyatillah B, Radar Bandung
========================
SUASANA kedai kopi Bako, Jalan Manisi, Bandung, tampak ramai sore itu. Pemilik kedai sibuk meracik biji-biji kopi dengan mesin gilingnya, mengantarkan cangkir-cangkir kopi yang dipesan pelanggan. Ruangan 12×6 meter itu pun penuh kepul uap dari bubuk kopi yang tersiram air panas. Aroma kopinya harum dan nikmat.

Kedai kopi Bako dikelola pasangan suami istri Yudi Purnama dan Ila Komalasari. Mereka menggeluti kedai itu sejak tiga tahun lalu, setelah bulat memutuskan untuk meninggalkan dunia kerja. Demi bisnis kopi, Yudi rela melepaskan jabatan manager sebuah band indie di Bandung.

Perlahan tapi pasti, kedai kopi Bako mulai memikat para pelanggan. Keuntungan kedai terus naik, dari omzet cuma Rp 500 ribu, kini kedai meraih penghasilan Rp 30 juta setiap bulannya. Tak hanya itu, Yudi juga berhasil membuka cabang di Ciumbuleuit, bahkan sampai punya kebun kopi sendiri di daerah Wanaraja, Kabupaten Garut. Sesuatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kendati demikian, pria kelahiran Garut 24 Januari 1980 itu mengaku masih belum puas menggali potensi kopi. Ia yakin, kopi punya potensi besar dalam mensejahterakan petani kopi yang hidup di desa-desa. Misi mensejahterakan petani pun menjadi ambisi Yudi selanjutnya.

Yudi Purnama, pemiliki kedai kopi Bako

“Alhamdulillah, di (bisnis) kopi saya bisa menghidupi keluarga. Sekarang sedang mengumpulkan uang untuk beli tanah lagi untuk kebun. Saya ingin memberdayakan petani,” kata Yudi kepada Radar Bandung (grup pojokbandung.com), Minggu (19/11/2017).

Di tanah kelahirannya, Yudi punya kebun kopi satu hektar. Untuk mengolah kebun kopinya, ia bekerja sama dengan seorang petani sayur lewat sistem bagi hasil. Dalam sekali panen, lahan tersebut menghasilan sekitar 1 ton kopi basah. Jika si petani menjualnya dalam bentuk kopi matang mentah (red cherry), harganya Rp8.000 per kilogram. Sehingga satu ton kopi sekitar Rp8 juta yang hasilnya dibagi dua. Tetapi Yudi ingin petaninya punya keterampilan lebih, sehingga sanggup menghasilkan green bean yang nilai jualnya lebih tinggi, antara Rp50 ribu – 80 ribu per kilogramnya.

Lewat kerja sama tersebut, petani tersebut jadi punya penghasilan tambahan selain dari sayuran. “Kalau sayuran kan panen per tiga bulan. Nah kopi dalam sekali panen bisa tiga bulan tak berhenti-berhenti,” tutur Yudi.

Sang istri, Ila Komalasari, mengakui bisnis di dunia kopi sangat menjanjikan. Saat ini Ila masih nyambi kerja di sebuah hotel di kawasan Dago, Bandung. Menurunya, gaji dari hotel belum menyamai penghasilannya di kedai.

“Ketika awal-awal merintis memang tidak mudah mencari pelanggan. Tapi sekarang, setelah berbagai edukasi tentang kopi menjamur, lambat laun bisnis makin baik. Komitmen pemerintah juga bagus dalam mempromosikan kopi,” ujar perempuan berkerudung kelahiran Bandung, 7 Februari 1983 itu.

loading...

Feeds