Suami-Istri Ini Kompak Membangun Madrasah di “Kampung Prostitusi”

Suami istri Ubun dan Ai Komalasari, pendiri MDT Muhammad Alfatih. Foto: Kim/Radar Bandung

Suami istri Ubun dan Ai Komalasari, pendiri MDT Muhammad Alfatih. Foto: Kim/Radar Bandung

POJOKBANDUNG.com – Keberadaan Madrasaha Diniyah Takmiliyah (MDT) Muhammad Alfatih seakan menjadi angin segar bagian sebagian warga Kampung Sipatahunan, Kelurahan Baleendah, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Untuk diketahui, selama beberapa tahun lamanya, kampung tempat berdirinya madrasah tersebut sempat dicap sebagai kampung prostitusi.

Madrasah didirikan sepasang suami istri Ubun (48) dan Ai Komalasari (40) sejak sejak 2015. Keduanya sepakat berjuang dengan harapan bisa mengubah generasi muda kampung menjadi lebih baik.

Ubun bercerita, upayanya awalnya mendapat penolakan dari kelompok masyarakat. “Sempat ditolak dengan kata kasar oleh mereka yang menolak keberadaan kegiatan MDT ini,” turut Ubun saat dijumpai di Kampung Sipatahunan, Rabu (11/10/2017).

Baca Juga:

Prostitusi Online Terbongkar, Tarif ABG Bikin Geleng-geleng Kepala

Ternyata Patrialis Akbar Ditangkap di Sarang Prostitusi, Sama Cewek?

Namun Ubun tak jera. Ia dan istrinya berusaha merangkul anak-anak usia dini untuk diajari ilmu agama. Antara lain baca tulis Al Qur’an, mengenalkan sejarah Islam dan memberikan materi pengajian berdasarkan kurikulum MDT pada umumnya.

Ubun mengaku hambatan dirasakan saat proses pengajaran kepada anak. Ini tidak lepas dari pola asuh dari orang tua mereka.

Anak-anak sehari-hari biasa menggunakan bahasa kasar saat berinteraksi dengan kawan-kawannya.

“Sangat mengkhawatirkan, ketika anak-anak selalu bertegur sapa menggunakan bahasa yang sebenarnya tidak pantas dilontarkan oleh anak,” kata pria asal Kecamatan Leles, Garut, itu.

Mensiasati persoalan bahasa yang kasar, Ubun punya metode yang cukup unik. Metode ini diterapkan di proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Ketika menemui anak yang berkata kasar, dia langsung menakuti dengan selembar kain kafan alias kain pembungkus jenazah.

“Mereka langsung takut dan bilang ampun. Apalagi posisi madrasah tepat berada hanya 50 meter dari pemakaman,” kata Ubun yang juga buruh serabutan.

Ubun menjelaskan, prilaku anak tak lepas dari kelakuan orang tuanya. Kelakuan buruk akan mengalir pada darah sang anak.

loading...

Feeds