Cari Angkot Susah, Pesan Angkutan Online pun Nggak Ada yang Mau Narik

Penumpang di Cimahi yang diberi tumpangan oleh mobil polisi. FOTO: GATOT PUJI UTOMO/RADAR BANDUNG

Penumpang di Cimahi yang diberi tumpangan oleh mobil polisi. FOTO: GATOT PUJI UTOMO/RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sampai kemarin, Rabu (11/10/2017), hanya sedikit angkutan kota (angkot) yang beroperasi di Bandung. Pun demikian dengan pengemudi angkutan online (baik motor/mobil).

Akhirnya, masyarakat kembali menjadi korban. Meski ada kesepakatan sopir angkot tak jadi mogok, namun nyatanya susah mencari angkot. Angkutan online pun enggan ‘narik’ lantaran khawatir terjadi sesuatu di jalan.

Dilema itu dialami Dian Fitri (28), warga Kiaracondong yang sehari-hari menggunakan angkot untuk menunjang pekerjaannya sebagai marketing.

“Saya nunggu di kawasan Wastukencana sejak pukul 11.00 WIB sampai 13.00 WIB. Lama sekali tidak ada angkot yang lewat. Ada satu lewat, tapi sudah penuh penumpang. Terpaksa nunggu lagi, Kalau begini kita jadi susah,” tutur Dian Fitri.

Baca Juga:

Angkot Vs Taksi Online, Ini Imbauan Organda Jabar untuk Hindari Ricuh

“Kalau Kondisi Angkot Lebih Baik, Kemungkinan Saya Tidak Akan Pakai Taksi Online”

Akibatnya, Dian terlambat ke tempat kerja karena tidak ada angkot yang dapat ditumpanginya. Selama dua jam lebih menunggu angkot, Dian pun mencoba memesan taksi online.

Namun, lagi-lagi tidak ada respons dari pengendara atau perusahaan berbasis aplikasi itu.

“Sudah dicoba beberapa kali, tidak ada respons. Malahan sopir online balik nelpon, katanya takut beroperasi, khawatir bertemu dengan sopir konvensional,” tutur Dian menirukan sopir taxsi online.

Dian kemudian memutuskan berjalan kaki dari Wastukencana menuju Jalan Sumatera. Informasi yang ia dapat, di kawasan tersebut masih ada angkot yang beroperasi. Namun, sesampainya di lokasi ia tetap harus menunggu kembali.

“Angkot-nya pada berhenti. Sekali ada angkot lewat harus berebut dan berdesakan dengan penumpang lain,” kesal Dian.

Kekesalan Dian tidak sampai disitu, sesampainya di kawasan Kiaracondong ia harus membayar ongkos lebih mahal tidak seperti hari-hari biasa. “Biasanya Rp 4.000 jadi Rp 5.000. Kata sopirnya itu harga normal,” imbuhnya.

Dian meminta pemerintah segera mengambil kebijakan ihwal polemik antara taxsi online dan konvesional. Ia memandang, khususnya pengusaha angkot konvensional jangan mengambil keuntungan melainkan memberi inovasi terhadap moda trasnpotasi umum untuk menjadi pesaing taxsi online.

Baca Juga:

Korban Sopir Angkot Mogok, Titin Supriatin Untung Bisa Numpang Mobil Polisi

Sopir Angkot di Terminal Cicaheum Tetap Beroperasi, Ogah Ikut Mogok Massal

“Tampilkan inovasi lain misalnya mempercantik kendaraan, berikan kenyamanan bagi penumpang dan jangan ngetem, toh’ rezeki sudah ada yang mengatur,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Rahmat Prakosa (32), yang mengaku harus terlambat pulang ke rumah karena kesulitan mendapat angkot. Sama seperti Dian, warga asal Antapani itu mengaku harus menunggu lama untuk mendapat tumpangan angkot.

“Saya sempat menelepon ojek online, tapi katanya gak bisa narik. Serba salah jadinya, yang ini mogok, yang ini gak bisa, yang rugi ya warga seperti kita ini. Saya berharap masalah ini cepat selesai,” ujarnya.

(arh/nda)

loading...

Feeds

Gas Melon Langka, Langkah Pertamina Apa?

Sementara itu, kelangkaan gas melon juga terjadi di Bandung. Salah satu daerah yang mengalami kelangkaan ialah Jalan Taman Sari, Kota …