Rumah Warga Tidak Mampu di Bandung Bakal Ditempeli “Stiker Miskin”

Warga beraktivitas di pemukiman kumuh di samping Sungai Cikapundung, Bandung. FOTO ILUSTRASI: RIANA SETIAWAN

Warga beraktivitas di pemukiman kumuh di samping Sungai Cikapundung, Bandung. FOTO ILUSTRASI: RIANA SETIAWAN

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pemkot Bandung bakal menjalankan program penempelan stiker di rumah-rumah warga miskin. Tujuannya, melindungi hak warga tidak mampu.

Dengan demikian, bantuan akan tepat sasaran. Selain itu, warga yang pura-pura miskin akan punya rasa malu jika rumahnya ditempeli stiker ini.

“Jadi nantinya, kalau ada warga kaya yang pura-pura miskin akan punya rasa malu sendiri kalau rumahnya ditempeli stiker tersebut,” kata Kabid Pengendalian dan Evaluasi Dinsos Kota Bandung Susetyo Triwilopo, kepada wartawan, Selasa (26/9/2017).

Susetyo mengatakan, pihaknya mencetak 120 ribu stiker untuk 117 ribu sasaran. Tulisan berukuran 10 cm X 15 cm ini bertuliskan “Keluarga Penerima Manfaat”. Ditempelkan di kaca rumah warga miskin.

Dengan penempelan stiker ini, diharapkan bisa membuat warga kaya yang mengaku miskin bisa malu.

“Dari informasi yang kami dapat, memang ternyata ada warga kaya yang akhirnya malu mengaku miskin,” terangnya.

Namun, Susetyo mengaku belum mengantongi data persisnya berapa warga kaya yang akhirnya mengaku bahwa mereka tidak benar-benar miskin.

Baca Juga:

Ratusan Ribu Warga Bandung Masih Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Tanggulangi Kemiskinan, Deddy Mizwar Ingin Data yang Valid

Eko mengatakan, dengan ditempelnya stiker ini, keluarga penerima manfaat bisa mendapatkan bantuan secara menyeluruh. Baik itu di bidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, permodalan, sampai pendampingan usaha‎.

“Jadi bantuan yang diberikan, menyeluruh, tidak parsial,” tegasnya.

Untuk Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Susetyo mengatakan, baru ada 10 e-warung yang tersedia di Kota Bandung.

Lokasinya tersebar di 10 kecamatan, diantaranya, Batununggal, Regol, Cibiru, Astanaanyar, Bandung Kulon, Cibeunying Kidul, Bojoloa Kidul, Sukajadi.

E-warung ini merupakan tempat di mana masyarakat bisa membelanjakan uang yang terdapat di kartu keluarga sejahtera (KKS).

Dalam KKS terdapan uang dengan nominal Rp110 ribu, yang bisa dibelanjakan untuk kebutuhan pangan sehari-hari.

“Masalahnya, sekarang harga naik, sehingga jatah uang tersebut tidak sesuai untuk kuota pembelian beras seperti seharusnya,” terangnya.

Di Kota Bandung sendiri,  direncanakan akan membuat 88 e-warung, 27 masih dalam proses pembangunan dan pengadaan barang, 37 sedang dalam proses pencairan dana, dan 14 tahap sedang pencarian lokasi.

“Kita memang kesulitan mencari lokasi e-warung. Lantaran di Kota Bandung, sulit mencari lokasi warga miskin yang memiliki tempat untuk berjualan. Karena peraturannya, pengelola e-warung harus merupakan warga tidak mampu, karena tujuannya mensejahterakan warga tidak mampu,” paparnya.

(mur)‎

loading...

Feeds