Wisata di Bandung Barat Terganjal Akses yang Masih Buruk

Seorang wisatawan lokal sedang memfoto pemandangan lanskap Lembang dimana terlihat Gunung Batu dan Patahan Lembang. (Habibie)

Seorang wisatawan lokal sedang memfoto pemandangan lanskap Lembang dimana terlihat Gunung Batu dan Patahan Lembang. (Habibie)

POJOKBANDUNG.com – Masih buruknya infrastruktur yang ada di Kabupaten Bandung Barat (KBB) membuat kunjungan ke obyek wisata dikhawatirkan menurun. Padahal, aksebilitas menjadi unsur penting dalam membangun dan mengembangkan potensi wisata KBB.

Kepala Seksi Pengelolaan Destinasi Pariwisata pada Disparbud Kabupaten Bandung Barat David Oot mengungkapkan, pembangunan infrastruktur untuk aksebilitas menjadi tugas pemerintah daerah dalam membangun sektor pariwisata KBB.

”Kalau infrastruktur masih rusak tentu akan mengganggu jumlah kunjungan,” ujar David, Selasa (19/9/2017).

Diakui David, memang pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab dalam menyediakan infrastruktur untuk aksesibilitas agar industri pariwisata ini bisa berkembang. Meski demikian, menurutnya untuk mengembangkan sektor pariwisata ini, diperlukan kerjasama di antara seluruh leading sektor.

David menjelaskan, untuk meningkatkan potensi wisata juga dibutuhkan juga fasilitas untuk wisatawan (amenitas), dan atraksi maupun sarana hiburan lainnya.

Dia pun mengungkapkan, ketersediaan sarana penunjang pariwisata tersebut merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan pengembangan sebuah daerah sebagai daya tarik wisata.

”Tiga unsur seperti aksebilitas, amenitas, dan atraksi ini sangat penting di pariwisata. Karena faktanya fasilitas-fasilitas ini merupa­kan penunjang yang harus tersedia di sebuah objek wisata,” katanya.

David menambahkan, pemerintah daerah harus bisa mempunyai visi misi pariwisata. Dengan begitu, segala anggaran yang dibutuhkan terkait pengembangan pari­wisata dari pusat pun bisa direalisasikan.

”Harapan dan target kami ke depan tentu objek wisata bisa terus ber­kembang. Karena dari wisata ini bisa menghasilkan PAD yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat Aa Umbara Sutisna menilai, Pemkab KBB gagal mengelola objek wisata milik pemerintah daerah. Padahal, jika dikelola dengan baik, PAD akan lebih meningkat dan bisa jauh lebih besar.

”KBB itu dikenal dengan wisatanya. Tapi, faktanya Pemkab gagal mengelola wisata, itu terlihat dari minimnya PAD dan kurang diminati pengunjung. Masa PAD hanya Rp 28 juta ke bawah setiap tahunnya, PAD segitu habis untuk gaji pegawai yang menjaga wisata juga,” sesal Aa.

Seperti diketahui, PAD dari objek wisata Situ Ciburuy hanya menyumbang Rp28 juta per tahun, sedangkan Curug Malela dan Gua Pawon masing-masing hanya Rp5 juta per tahun.

Terdiri dari 7.300 pengun­jung untuk Situ Ciburuytahun, 6.840 pengunjung Gua Pawon tahun, dan 1.800 pengunjung Curug Malela tahun. Satu-satunya objek wisata yang menyumbang PAD terbesar hingga Rp200 juta per tahun, yaitu Maribaya Hot Spring and Resort, setelahdikerjasamakan dengan pihak ketiga, yakni PT Akurasi Kuat Mega.

(bie)

loading...

Feeds