Netty: Perempuan dan Anak Prioritas Penanganan Pengungsi Rohingya

Netty Prasetiyani (kanan) di sela aksi solidaritas Rohingnya

Netty Prasetiyani (kanan) di sela aksi solidaritas Rohingnya

POJOKBANDUNG.com – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar, Netty Prasetiyani, mengungkapkan bahwa penanganan pengungsi Rohingya idealnya memprioritaskan pemulihan trauma perempuan dan anak.

Hal ini untuk meminimalisasi terjadinya kejahatan lainnya, seperti human trafficking.

“Jika terjadi konflik baik kecil ataupun besar, horisontal maupun vertikal maka dapat dipastikan perempuan, anak, dan keluarga menjadi kelompok yang paling menderita,” ujar Netty.

Dalam kondisi trauma seperti ini, jelasnya, bila tidak segera ditangani bisa memunculkan kejahatan lainnya.

Baca Juga:

Warnaget Indonesia Kumpulkan Rp2,5 Miliar untuk Pengungsi Rohingya

Deddy Mizwar Serukan Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi

Survei UNHCR terhadap perempuan Rohingya yang lari dan terdampar di penampungan di India, Malaysia dan Indonesia, menunjukkan bahwa sekitar 60% anak perempuan terpaksa menikah dini sebelum usia 16-17 tahun.

Disinyalir pengantin anak-anak ini di antaranya adalah korban perdagangan orang. Modus yang dilakukan adalah janji keamanan dan kehidupan yang layak.

“Untuk itu atas nama bangsa yang menjunjung harkat dan martabat kemanusiaan mengutuk keras pembantaian etnis Rohingya,” tandasnya.

Netty juga meminta agar Pemerintah Myanmar segera menghentikan operasi militer dan tindakan brutal tersebut.

“ASEAN dan PBB harus segera turun tangan menghentikan pembantaian dan memberikan bantuan,” tambahnya.

Indonesia, menurut Netty, dalam sejarah perdamaian dunia memiliki peran penting, salah satunya memprakarsai berlangsungnya Konferensi Asia Afrika (KAA).

loading...

Feeds