Zulkifli Hasan Tumpahkan Unek-unek Soal Agama dan Negara di Rakernas III PAN

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di sela Rapat Kerja Nasional III PAN, di Bandung. Foto: Atep Kurniawan/pojokbandung

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di sela Rapat Kerja Nasional III PAN, di Bandung. Foto: Atep Kurniawan/pojokbandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menumpahkan kekesalannya atas kondisi bangsa Indonesia saat ini, dalam pidato Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PAN, di Hotel Asrillia, Bandung, Senin (23/8/2017).

Di depan ribuan kader PAN termasuk tamu undangan, ia menyebut Indonesia telah dikepung banyak pemahaman yang salah.

“Hari-hari ini, di tengah perayaan 72 tahun kemerdekaan, negeri kita tercinta Indonesia dikepung oleh banyak salah paham,” ungkap Bang Zul, biasa ia disapa, dalam sambutan Rakernas bertajuk “Menjahit Kembali Merah Putih”.

Salah paham pertama, jelas dia, ada pihak yang menganggap tunduk pada ajaran agama dipandang tidak setia pada paham kebangsaan. Menjadi pemeluk agama yang taat dinilai sebagai berkhianat terhadap prinsip ber-Indonesia.

Baca Juga:

Pilgub Jabar: Deddy Mizwar Gencar Lobi-lobi ke Partai Politik, Salah Satunya PAN

Efek Pertemuan Cikeas, Konstalasi Empat Partai Menguat Jelang Pilgub Jabar

6 Sekretaris Partai Diskusikan Pilgub Jabar Jangan Saling Memojokkan

“Salah paham itu sungguh serius. Di Indonesia, paham kebangsaan dan paham keagamaan saling menopang. Menjadi pemeluk agama yang taat adalah jalan untuk menjadi warga negara yang baik,” kata Zulkifli Hasan yang juga Ketua MPR ini.

“Bahkan, di kalangan umat Islam di negeri tercinta ini tegak sebuah prinsip bahwa “mencintai Tanah Air adalah bagian dari iman,” tambahnya.

Ia menyinggung Hadratusy Syech KH Hasyim Azhari, pendiri Nahdhatul Ulama yang memperkenalkan prinsip tersebut dengan fatwa terkenalnya, hubbul wathon minal Iman.

Salah paham kedua, lanjut dia, kontestasi politik digunakan untuk memberi label sekaligus memisah-memisahkan kelompok dalam masyarakat, toleran dan intoleran, perawat kemajemukan dan perusak kebinekaan, penjaga Pancasila dan berkhianat Pancasila, cinta NKRI dan pengkhianat NKRI.

“Tidak sepatutnya kalah atau menang itu dijadikan alat untuk mengkotak-kotakkan kelompok-kelompok dalam masyarakat seperti itu,” tegasnya.

Selanjutnya, salah paham yang berkembang adalah kekeliruan fatal dalam memahami dan memaknai sejarah kebangsaan kita.

loading...

Feeds

Selamat Datang Lagi, Spaso

Ada pemain yang patut ditunggu performanya dalam pertandingan Persib Bandung kontra Bhayangkara FC, Minggu (24/9) pukul 15.00 Wib.