Perkelahian Siswa SD Berujung Maut, Netty Angkat Bicara

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan pada acara Parents Gathering dengan tema Mendidik Anak Dengan Cinta di Gedung Islamic Center, Ciamis.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan pada acara Parents Gathering dengan tema Mendidik Anak Dengan Cinta di Gedung Islamic Center, Ciamis.

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jawa Barat Netty Heryawan prihatin atas peristiwa meninggalnya siswa kelas 2 SD yang diduga bertikai dengan teman sekelasnya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Longkewang, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (8/8/2017).

Netty mengungkapkan bahwa hingga saat ini P2TP2A Provinsi Jawa Barat terus berkoordinasi dengan P2TP2A Kab. Sukabumi untuk mendapatkan kejelasan peristiwa tersebut.

“Sejak dua hari kebelakang pihak kami terus berkomunikasi dengan P2TP2A Kab. Sukabumi dan alhamdulillah sudah ada informasi yang lebih jelas lagi,” katanya.

Sebelumnya, korban diberitakan meninggal di halaman sekolah setelah bertikai dengan teman sekelasnya, namun pihak sekolah membantah hal tersebut. Korban disebut ‘hanya’ dilempar minuman beku dan mengenai telinganya.

“Ada hal-hal yang perlu diluruskan terkait peristiwa tersebut, betul ada perkelahian antar siswa satu dengan siswa lainnya namun setelah divisum ternyata korban menderita kelainan pada pembuluh darah di otaknya sehingga terjadi pembekuan, hal tersebut mengakibatkan terhambatnya aliran oksigen ke otak dan korban jatuh pingsan saat kejadian terjadi. Bukan karena pukulan, tonjokan, atau kekerasan lainnya,” ungkap Netty.

Baca Juga:

Penting! Pencegahan HIV/Aids pada Anak Muda

Pemkab Bandung Barat Luncurkan 2.000 KTP Anak Agustus Ini

Netty menjelaskan mungkin karena kaget, korban lalu jatuh tidak sadarkan diri.

“Jadi ketika korban jatuh dan pingsan, pelaku yang juga usia anak kelas 2 SD langsung lari panik mencari gurunya. Jadi ini gambaran wajar karena bukan dipojokkan atau adanya pengeroyokan,” terangnya.

Dalam rangka mengimplemasikan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) Nomor 11 tahun 2012, kebijakan penanganan anak yang berhadapan dengan hukum harus dipilih sebijak mungkin.

Ada pun anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.

loading...

Feeds