Redenominasi Rupiah, Harga Barang 10 Ribu Jadi 10 Saja

Sosialisasi dan edukasi mata uang rupiah NKRI kepada siswa pada kegiatan BI Mengajar dengan tema

Sosialisasi dan edukasi mata uang rupiah NKRI kepada siswa pada kegiatan BI Mengajar dengan tema "Edukasi dan Sosialisasi Uang Rupiah NKRI Tahun Emisi 2016" di Aula SMA Negeri 1 Baleendah, Kab. Bandung, Kamis (26/1/2017). (ramdhani)

POJOKBANDUNG.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membahas rencana redenominasi, Selasa (25/7/2017).

Bila rencana tersebut mulus, redenominasi atau penyederhanaan nilai mata uang dengan menghilangkan beberapa nol di belakang angka, bisa diberlakukan penuh 2030.

Harga-harga barang nanti ikut menyesuaikan sehingga tidak sampai terjadi disparitas yang berpotensi memicu inflasi.

Agus menjelaskan, rencana redenominasi sebenarnya sudah bergulir 2013. Saat itu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah mengeluarkan amanat presiden sebagai tanda persetujuan pemerintah membahas RUU Redenominasi dengan DPR.

Baca Juga:

BI Cetak Rupiah Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Kalah Terhadap Dolar, Rupiah Kokoh Kalahkan Yen dan Eurof

”Tapi, 2013 itu terjadi gejolak ekonomi dunia sehingga kita tidak selesaikan RUU-nya,” terang Agus setelah bertemu Presiden.

Bila pembahasan bisa dilaksanakan tahun ini, Agus yakin dapat terselesaikan dengan baik. Mengingat persiapannya sudah cukup matang.

Pihaknya sudah menyiapkan rencana sosialisasi secara bertahap hingga 2029. Tentu dengan asumsi bahwa RUU Redenominasi bisa diajukan dan disahkan tahun ini.

Diawali dengan masa persiapan pemberlakuan redenominasi selama dua tahun, 2018–2019. Kemudian, redenominasi mulai diberlakukan 1 Januari 2020 dalam masa transisi hingga 2024.

”Saat itu di Indonesia akan ada rupiah lama dan baru, tetapi bersama. Dan harga-harga barang dan jasa harus dipasang harga-harga baru dan lama,” lanjutnya.

loading...

Feeds

Wah! Peringkat ITB Digeser UGM

Nasir mengumumkan UGM behasil menempati posisi pertama dengan skor 3,66 poin, menggantikan ITB (3,53 poin). Di bawahnya disusul IPB