IUD Tidak Laku, Laju Pertumbuhan Penduduk Bandung Barat Tak Terkendali

ilustrasi

ilustrasi

POJOKBANDUNG.com – Masyarakat dinilai kurang meminati penggunaan alat metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP). Sehingga angka kelahiran masih tinggi.

Hal itu ditunjukkan Data Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) KBB 2016, di mana pemakaian MKJP nonhormonal masih relatif rendah, yakni 472 pengguna wanita dan 110 pengguna pria.

MKJP misalnya yakni dengan implant uterine device (IUD). Angka itu jauh lebih kecil dari pemakaian alat suntik KB dengan jumlah 20.608 pengguna.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Informasi Keluarga Dinas P2KBP3A KBB, Evi Saefiyani menyebutkan, minimnya penggunaan MKJP menyebabkan total fertility rate (TFR) atau angka kelahiran di KBB saat ini 2,4. Artinya, rata-rata setiap perempuan usia subur melahirkan 3 anak.

Baca Juga:

Hadapi Ledakan Penduduk, Pemprov Fokus ke Pendidikan dan Kesehatan

Penduduk Miskin Jadi Kendala

“Tapi tetap kami targetkan angka TFR menjadi 2,1 atau memiliki anak hanya 2 orang, sehingga program KB bisa tercapai,” ujar Evi Saefiyani.

Meski demikian, kata dia, jumlah akseptor KB di KBB terus mengalami peningkatan. Saat ini, akseptor KB sudah mencapai 79% dari 43.396 pasangan usia subur. Targetnya, akseptor KB bisa mencapai 80 persen.

Untuk meningkatkan penggunaan MKJP jenis IUD, kata Evi, pihaknya terus mensosialisasikan kepada masyarakat. Alat MKJP ini bisa bertahan 3,5 tahun sampai 10 tahun dan lebih aman dibandingkan dengan KB suntik.

“Kami juga sialisasikan program ini melalui Kampung KB di setiap desa. Harapannya, akseptor KB juga terus meningkat, sehingga laju pertumbuhan penduduk bisa terkendali,” katanya.

Evi menuturkan, pengendalian penduduk ini dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saat ini, masyarakat KBB yang masuk ke dalam kelompok keluarga prasejahtera sekitar 10 persen.

“Keluarga sejahtera setiap tahun terus naik. Artinya, pra-KS terus menurun. Salah satu faktornya dari kesadaran masyarakat akan program KB yang menekan angka kelahiran atau jumlah penduduk,” ujarnya.

(bie)

loading...

Feeds