Keliling Dunia dengan Pesawat, Brian LIoyd Singgah di Bandung

Brian LIoyd saat berada di Gedung Sate Bandung, Kamis (29/6). (Atep)

Brian LIoyd saat berada di Gedung Sate Bandung, Kamis (29/6). (Atep)

Selain seorang pilot, Brian Lloyd juga merupakan seorang pegiat radio amatir dengan callsign WB6RQN. Ia menjadi operator radio amatir semenjak tahun 1976. “Saya sangat menikmati komunikasi melalui radio ini,” katanya.

Selama penerbangan, ia aktif berkomunikasi melalui radio dengan para amatir di seluruh dunia. Selain itu, penerbangan ini juga dapat diikuti melalui web dan media sosial. “Ayah mengajari saya terbang saat saya berusia 14 tahun. Penerbangan memang ada di keluarga saya, kedua anak saya juga pilot,” ungkap LIoyd.

Terbang melintasi samudera tanpa henti, bukanlah hal mudah bagi pesawat bermesin tunggal yang dirancang sangat terbatas jarak jelajahnya. Maka, LIoyd pun memodifikasi pesawatnya yang berjenis ‘mooney airplane’ buatan tahun 1979, agar bisa membawa bahan bakar 150 galon lebih banyak. Bahkan pesawatnya dilengkapi dengan peralatan navigasi modern, radio komunikasi jarak jauh dan telepon satelit.

Bandung menjadi salah satu titik persinggahannya, juga mengikuti jejak Earthart pada tahun 1937, sekalipun saat itu singgah hanya untuk perbaikan pesawat. Namun LIoyd singgah di Bandung kali ini tidak dengan persoalan yang sama.

Ia tiba untuk menyemangati masyarakat dunia bahwa penerbangan itu menurutnya ajaib, melayang di udara bebas tanpa hambatan apapun. “Di udara tidak ada kabel, tidak ada hambatan apapun. Bagi saya penerbangan itu ajaib,” katanya.

Brian Llyod merupakan seorang instruktur penerbangan, ahli mesin, edukator dan operator radio amatir. Ia tinggal di San Antonio, Texas, USA. Ia menjalankan misinya dengan menggunakan dana sendiri dan donasi. “Perjalanan ini memang mahal, tetapi lebih besar dibiayai dari dana sendiri. Dan ke depan saya akan mengajar,” katanya.

(atp/pojokbandung)

loading...

Feeds