Makna Idul Fitri Bisa Rusak karena Obrolan ‘Membahayakan’ Saat Kumpul Keluarga

POJOKBANDUNG.com- MAKNA Lebaran bisa menjadi rusak jika dijadikan ajang pamer. Bukan saja pamer soal harta benda seperti perhiasan dan mobil, tetapi juga pamer keberhasilan pendidikan dan karir.

Hal ini biasa terjadi pada sejumlah anggota keluarga di Indonesia. Bahkan tidak sedikit anggota keluarga yang malas berkumpul bersama sanak saudaranya karena kebiasaan pamer itu.

Misalnya, seorang Bude atau Tante membandingkan anaknya dengan keponakannya yang lain. Si Tante dengan bangganya memaparkan keberhasilan si anaknya yang diklaim lebih sukses karena mampu meraih tiket masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) favorit atau sekolah berstandar nasional dan internasional.

Belum lagi, soal nilai rapor dan ranking di kelas yang menjadi ajang kebanggaan. Atau prestasi lainnya. Ada pula ajang pamer kesombongan lainnya. Misalnya seorang ibu membandingkan kesuksesan anaknya yang sudah diterima kerja di perusahaan ternama dengan gaji tinggi.

Hal itu dengan entengnya diceritakan di tengah anggota keluarga lainnya yang belum mendapatkan pekerjaan alias menganggur. Tentu hal itu akan menyakiti hati keluarga.

Atau bisa juga obrolan soal jodoh yang kesannya sangat menyakiti anggota keluarga yang belum memiliki pasangan. Tema obrolan seperti ini tentu sangatlah ‘membahayakan’ karena bisa menyakiti hati.

“Jika kasusnya seperti itu maka sebagai pihak yang merasa lebih kurang, hadapi itu dan jadikan sebagai pemicu untuk lebih bersemangat,” kata Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati.

Menurut Devie, tak usah memiliki perasaan dengki atau iri hati melihat keberhasilan anggota keluarga lainnya. Sebab, setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Karena Tuhan pun sudah menggariskan rezeki masing-masing bagi setiap makhluk-Nya. “Enggak usah iri tetapi saling mendukung. Tunjukkan kelebihan lainnya,” tukasnya.

Devie menambahkan jika seseorang menyambut Lebaran dengan penuh suka cita dan dengan niat yang lurus untuk bersilaturahi, maka berbagai pertanyaan pasti bisa ditangkis.”Keindahan rayakan hari keluarga ada pada hati kita. Kalau kita semangat bisa jadi indah,” tuturnya.

(cr1/jpg/pojokbandung)

loading...

Feeds