Anak Terlibat Narkoba dan Pergaulan Bebas? Jangan Perlakukan Seperti Sampah

Ketua P2TP2A Jawa Barat Netty Heryawan saat menjadi narasumber dalam acara Forum Silaturahim Majelis Taklim (FORSIL MT).

Ketua P2TP2A Jawa Barat Netty Heryawan saat menjadi narasumber dalam acara Forum Silaturahim Majelis Taklim (FORSIL MT).

POJOKBANDUNG.com- SETIAP anak tidak pernah meminta dilahirkan. Setiap anak juga tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya.

Karena itulah para orangtua selayaknya menganggap anak sebagai anugerah dan titipan yang harus dijaga dari kerusakan zaman, bukan sebagai beban apalagi sumber masalah. Orangtua harus meluruskan persepsi tentang nilai seorang anak, memperbaiki gaya berkomunikasi dan cara berinteraksi dengan anak.

BACA JUGA:

Bandung Luncurkan Aplikasi Tongsis, Anak Anda Bisa Ketahuan Bolos Disini!

Anak Hiperaktif, Ini Cara Membuatnya Menjadi Lebih Tenang

Selain itu, orangtua juga harus kompak menjaga pola pengasuhan yang baik, serta lebih banyak mendengar keluhan anak sehingga tumbuh kembang anak dapat optimal dan berkarakter emas.

Namun bagaimana bila anak terlanjur khilaf dan melakukan kesalahan, seperti terlibat narkoba atau pergaulan bebas? Dengan tegas, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat Netty Heryawan menjawab, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan.

Sangatlah manusiawi jika seseorang melakukan kesalahan. Namun tidak tepat jika lantas orang yang berbuat salah diperlakukan seperti sampah masyarakat.

“Orang berbuat salah itu manusiawi. Jangan perlakukan anak sebagai sampah hanya karena telah melakukan kesalahan,” kata Netty saat menjadi narasumber dalam acara Forum Silaturahim Majelis Taklim (FORSIL MT), dengan tema ‘Mempersiapkan Generasi Terbaik di Akhir Zaman’, di Gedung Fathul Khoir Jl Raya Timur No 288 Cicalengka, Kab. Bandung, Sabtu (3/6/2017).

Netty mengungkapkan, orangtua justru harus bersikap suportif. Dengan dukungan dari orang-orang terdekatnya, anak akan cenderung berani untuk berubah dan memulai kehidupan yang lebih baik. Orangtua juga harus mulai merancang sebuah regulasi untuk menangani kasusnya, sehingga permasalahan anak dapat diurai sekaligus merubah karakternya.

loading...

Feeds