Puan Maharani Peringati Harkitnas di Bekas Pengasingan Soekarno

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani (baju putih dan bertopi) bersama Menpora Imam Nahrawi di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (20/5). Foto: Kemenko PMK for JPNN

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani (baju putih dan bertopi) bersama Menpora Imam Nahrawi di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Rabu (20/5). Foto: Kemenko PMK for JPNN

POJOKBANDUNG.com – Boedi Oetomo menjadi petanda kebangkitan nasional. Tiga puluh tujuh tahun setelah gerakan yang dibangun 1908 itu, negeri ini merdeka.

Tak heran jika tiap tahunnya hingga kini, Boedi Oetomo selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani pun tak mau ketinggalan. Ia memeringati Harkitnas yang jatuh Rabu, (20/5/2017) ini, dengan memilih bekas lokasi pengasingan kakeknya yang juga Proklamator RI, Ir Soekarno di Ende, Nusa Tenggara Timur.

Bagi Puan, kunjungan ke Ende itu merupakan yang pertama kalinya meski salah salah satu kabupaten di Flores itu menjadi tempat pengasingan kakeknya saat masa penjajahan Belanda.

“Alhamdulillah ini pertama kali saya datang menginjak kota Ende. Dahulu sudah beberapa kali direncanakan tetapi selalu gagal dan baru kali akhirnya saya bisa sampai di Kota Ende,” kata Puan sebagaimana dikutip dari siaran pers Kemenko PMK.

Peringatan Harkitnas di Ende dipusatkan di Lapangan Pancasila. Dalam kesempatan itu, Puan berbicara tentang visi Soekarno yang jauh ke depan.

Bahkan, kata putri kandung ketua umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri itu, revolusi mental yang disuarakan Presiden Joko Widodo tak terlepas dari filosofi gagasan Soekarno.

Puan menjelaskan, esensi revolusi mental adalah mengubah pola pikir dan pandangan untuk gerakan kehidupan yang baru. Karenanya ia mengutip cita-cita Trisakti yang digagas Soekarno agar Indonesia berdaulat secara politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

“Indonesia yang berdaulat mandiri harus berlandaskan semangat gotong royong,” katanya.

“Oleh karena itu dengan jalan Trisakti, tiga norma dalam pembangunan infrastruktur, pembangunan pengawasan ketimpangan kelompok masyarakat bawah, pembangunan yang menjadi daya dukung lingkungan tidak bisa dipisahkan.”

Selain itu Puan juga mengingatkan tentang tantangan ke depan yang semakin berat. Sebab, Bung Karno jauh-jauh sebelumnya sudah mengingatkan bahwa Bangsa Indonesia akan menghadapi tantangan berat karena menghadapi sesama anak bangsa.

Puan lantas menyinggung tentang ketimpangan sosial, kesenjangan pendidikan dan ekonomi yang saat ini terjadi di tengah liberalisasi sebagai tantangan yang sudah diperkirakan Bung Karno.

“Apa yang dikatakan beliau (Bung Karno, red) sesungguhnya baru kita rasakan saat ini,” ucapnya.

(ara/jpnn)

loading...

Feeds

Ratusan Guru Cimahi Akan Dirotasi

Tahun ini rotasi dan mutasi guru Sekolah Dasar (SD) di Cimahi akan segera dilaksanakan. Hal itu dilakukan karena Cimahi kekurangan …