Antara Kokom dan Lionel Messi, Film Buram Buruh Jawa Barat

Diskusi film Factory Asia di Kafe Kaka, Jalan Tirtayasa, Bandung, Kamis (11/5/2017) malam. Foto: Iman H

Diskusi film Factory Asia di Kafe Kaka, Jalan Tirtayasa, Bandung, Kamis (11/5/2017) malam. Foto: Iman H

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pagi buta, belasan buruh perempuan harus berlari menyeberangi jalan tol menuju pabrik tempatnya bekerja. Beresiko, memang.

Namun, hanya melalui tol itu mereka bisa datang lebih cepat ke pabrik sepatu ternama dunia yang berdiri di daerah penyangga DKI Jakarta.

Daerah penyangga DKI adalah Jawa Barat dan Banten, antara lain Tangerang, Karawang, Bekasi, Purwakarta, Sukabumi, hingga kawasan Pantura. Di sanalah pabrik-pabrik besar berdiri.

Layar hitam. Lalu muncul kutipan: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain,” ― Pramoedya Ananta Toer.

Buruh perempuan yang menyeberangi jalan tol dan kutipan dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu menjadi adegan pembuka film dokumenter Factory Asia.

Film itu dibuat Lembaga Informasi Perburuhan Sedane-Sedane Labour Resource Center (LIPS).

Film Factory Asia diputar dalam acara diskusi “Meraba Skema Ekspansi Modal di Indonesia” di Kafe Kaka, Jalan Tirtayasa, Bandung, Kamis (11/5/2017) malam, yang dihadiri anak muda Bandung, kebanyakan mahasiswa dan aktivis.

Pada adegan lain, film mengulas seorang buruh perempuan bernama Kokom. Dia bekerja di pabrik sepatu terkenal, namun upahnya sangat murah. Dia kemudian dipecat.

Nasib Kokom jauh berbeda dengan Lionel Messi, striker Barcelona yang piawai menggiring bola itu. Messi dikontrak oleh perusahaan sepatu dengan nilai miliaran rupiah. Ironisnya, pabrik tempat bekerja Kokom memasok sepatu ke perusahaan yang mengontrak Messi.

“Lionel Messi tak kenal Kokom. Kokom dipecat lantaran mendirikan serikat pekerja untuk menuntut upah. Lionel Messi sibuk bertanding. Kokom belum berhenti menuntut upahnya,” demikian narasi film Factory Asia.

Film Factory Asia kemudian menggambarkan pergerakan kapital di Asia seperti Singapura, Hongkong, Taiwan, yang kemudian berpusar di Jakarta dan daerah penyangganya.

Disebutkan, semakin pesat sebuah kota, semakin sama permasalahannya, yaitu kemacetan, membludaknya barang-barang yang harus dibeli, dan upah buruh murah.

Kapital terus menggurita sekaligus menyerap tenaga-tenaga kerja muda dengan upah murah. Pabrik-pabrik manufaktur merek dunia pun terus berdiri, menenggelamkan sawah-sawah.

Pemutaran film Factory Asia dilanjutkan dengan diskusi yang dibuka tuan rumah, Furqan AMC.

Pemilik Kafe Kaka tersebut mengatakan, film tersebut berusaha menyadarkan penontonnya bahwa negeri ini mengalami pengkaplingan gila-gilaan oleh pemilik modal (kapitalis).

“Film ini hanya pemantik untuk bertanya, betulkah kita pewaris tanah air ini?” kata alumnus Unisba itu.

Salah seorang narasumber diskusi, Herry Sutresna alias Ucok Homicide, mengatakan film tersebut menunjukkan skema besar yang dirancang kapitalis. Skema yang terjadi lebih mengerikan lagi dibandingkan dengan yang difilmkan.

Ke depan akan semakin besar lagi tanah-tanah yang akan dilahap pemodal untuk bikin pabrik maupun properti. Hal ini berpotensi menimbulkan konflik agraria. Akan kian banyak sawah-sawah yang diuruk.

“Krisis yang ada hari ini lebih mengerikan dari yang kita tonton,” ujar Ucok.

Pendiri grup hip hop Homicide (1994) tersebut turut terlibat pembuatan film Factory Asia. Tujuannya sebagai sarana pendidikan bagi buruh.

Diharapkan, film tersebut bisa membangkitkan semangat yang sama bagi buruh tani, mahasiswa dan penonton umum untuk melek pada realitas saat ini sambil mengorganisasi diri membangun perlawanan.

Jika tidak, kekhawatiran Pramoedya Ananta Toer bakal terbukti: Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.

(imn/pojokbandung)

loading...

Feeds