Langkah Dahsyat Membangun Citra Diri dengan Pikiran Positif

Ilustrasi

Ilustrasi

POJOKBANDUNG.com- MEMILIKI citra diri yang rendah, memang tidak secara khusus masuk sebagai suatu diagnosis gangguan mental. Namun orang dengan citra diri yang rendah rentan menjadi gangguan neurosa seperti depresi dan cemas, atau fobia sosial.

Spesialis kejiwaan dr Aimee Nugroho punya tips untuk mendongkrak citra diri. Caranya, ambil sebuah buku dan tuliskan impian Anda, dengan begitu Anda diajak untuk bersikap lebih optimis akan masa depan.

BACA JUGA:

Betulkah Bercinta Bisa Redam Konflik? Begini Penjelasannya

Ini Cara Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget

Selain itu, katakan hal yang positif tentang diri Anda. Tuliskan pencapaian Anda, kelebihan dan kekurangan diri. Sadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Terimalah diri Anda apa adanya.

Anda tidak bisa membahagiakan semua orang, maka berpikirlah bagaimana cara membahagiakan diri Anda terlebih dahulu. Ketika berhasil dalam hidup, hadiahilah diri Anda sendiri.

Dengan begitu, Anda belajar untuk menghargai pencapaian diri Anda. ’’Terakhir ketika orang lain memuji, jangan terlalu melambung tinggi dan jangan menolak mentah-mentah seolah Anda tidak layak. Terimalah pujian, dan ucapkan terima kasih terhadap orang yang memuji,’’ paparnya.

Aimee tidak memungkiri proses merubah citra diri tidak mudah, namun harus dicoba untuk menghargai diri kita sendiri. Seseorang mempunyai citra diri yang rendah bukan tanpa sebab.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Seperti dibesarkan di keluarga yang overcritical (mengkritik banyak hal dalam dirinya), keluarga yang perfeksionis (menuntut anak sempurna), dan lingkungan yang abusive/KDRT/bullying.

Terlepas dari itu, orang-orang Indonesia memang cenderung mempunyai citra diri yang rendah. Aimee menyebut beberapa faktor penyebabnya.

Pertama, Indonesia adalah negara Timur yg mana menjunjung tinggi adat istiadat dan kesopanan. Terdapat norma bahwa kita harus menghormati yang lebih tua. Sehingga anak muda kadang sulit mengungkapkan pendapatnya bila dirasa berbeda dari pendapat para tetua.

Kedua, kultur Indonesia menjunjung pria lebih tinggi dari perempuan (paternalistik) sehingga banyak perempuan yang juga sulit mengungkapkan perasaan dan pendapatnya dalam berumah tangga, yang mana rentan terjadi kekerasan psikis dalam rumah tangga.

Yang ketiga, Indonesia pernah menjadi negara jajahan asing. Hal ini mempengaruhi citra diri orang Indonesia yang merasa dirinya kurang atau lebih rendah dibandingkan dengan orang asing.

(ina/tia)

loading...

Feeds