Iqro, Film Cucu Direktur Bosscha yang Ingatkan Bahaya Polusi Cahaya

Observatorium Bosscha ITB. Foto: bosscha.itb.ac.id

Observatorium Bosscha ITB. Foto: bosscha.itb.ac.id

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Pengamatan bintang di Observatorium Bosscha ITB, Lembang, tidak seperti dulu lagi. Banyak bintang-bintang yang tak bisa lagi tertangkap teleskop, apalagi dengan mata telanjang.

Polusi cahaya menjadi penyebab utama “menghilangnya” bintang-bintang itu. Polusi tersebut muncul akibat pesatnya pembangunan di Kawasan Bandung Utara yang sebenarnya kawasan hijau dan tidak boleh sembarangan dibangun.

Direktur Observatorium Bosscha ITB Mahasena Putra menyebutkan, Bosscha mulai berada dalam pusaran cahaya setidaknya sejak tahun 1970, ketika pembangunan gencar-gencarnya.

Baca Juga:

Nikita Willy Bintangi Film Komedi Absurd Terinspirasi Bom Panci Bandung

Penonton Kartini Sedikit, Hanung Bandingkan dengan Film Tjokroaminoto dan Soekarno

Wow! Film FF8 Patahkan Rekor Star Wars dan Jurassic World

Wow, Beauty And The Beast Masuk Kategori Film Berpendapatan USD 1 Miliar 

Rindu Anna dan Elsa? Disney Umumkan Tanggal Rilis Frozen 2

“Pembangunan yang pesat itu efeknya untuk lingkungan tidak terkontrol, bangunan banyak, orang makin banyak, lampu-lampu juga banyak,” kata Mahasena Putra, saat berbincang dengan Pojokbandung.com, baru-baru ini.

Lampu-lampu itulah yang kemudian mengganggu peneropongan bintang. Cahaya lampu dibiarkan memantul ke atas, membuat langit terang. Akibatnya cahaya bintang kalah dengan cahahaya lampu. Padahal observasi ideal memerlukan langit gelap.

Salah satu upaya Bosscha untuk meminimalkan polusi cahaya adalah dengan mensosialisasikan penggunaan tudung lampu. Dengan tudung ini, cahaya lampu milik warga tidak akan berhamburan ke langit.

Namun, Bosscha tidak bisa bergelut melawan polusi cahaya sendirian. Perlu dukungan pemerintah dan masyarakat.

Salah satu bentuk dukungan masyarakat terhadap kondisi Bosscha yang bergelimang cahaya adalah dibuatnya film Iqro oleh Salman Film Academy, Masjid Salman ITB.

Iqro merupakan film pendidikan anak dengan setting di Bosscha. Film fiksi ini mengisahkan seorang anak kecil, cucu Direktur Observatorium Bosscha, yang berlibur ke Lembang. Anak ini tertarik pada ilmu astronomi.

“Nah, di film Iqro ada sosialisasi tentang pentingnya penggunaan tudung lampu itu, tentang polusi cahaya,” kata Mahasena Putra.

Doktor lulusan University of Tokyo, Jepang, ini bersyukur masih ada masyarakat yang peduli mengurangi polusi cahaya. Menurutnya, polusi cahaya bukan saja masalah Bosscha atau astronomi, melainkan menyangkut lingkungan, penghematan energi, kesehatan dan lainnya.

(imn/pojokbandung)

loading...

Feeds