Wisata Masa Lalu Lewat Naskah Kuno di Museum Sri Baduga Bandung

Museum Sri Baduga Bandung

Museum Sri Baduga Bandung

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Museum bisa jadi tujuan wisata menarik. Dengan datang ke museum, Anda seperti diajak berwisata ke masa lalu, menyaksikan jejak-jejak peradaban.

Nah, bicara soal peradaban, Museum Sri Baduga, Bandung, punya benda-benda sejarah koleksi terbaru. Beberapa koleksi yang disiapkan untuk publik antara lain naskah kuna (kuno).

Kepala Museum Negeri Sri Baduga, Sajidin Aries, mengatakan pihaknya mendapat delapan naskah yang diperoleh secara hibah dari Aki Tarka, warga Desa Cikedung Lor, Kabupaten Indramayu, beberapa waktu lalu.

Delapan naskah kuna itu terdiri dari lima naskah terbuat dari kertas daluang dan tiga naskah dari daun lontar.

Baca Juga:

Wajib Coba! Lima Wisata Kuliner Legendaris di Bandung

Wisata Halal Sudah Jadi Tren Dunia, Pemprov Dorong Pelaku Usaha Syariah

Duh, Potensi Wisata di KBB Belum Dilirik Wisatawan

“Rencananya, kedelapan naskah kuna akan dipamerkan di ruang pamer museum dalam waktu dekat ini,” ujar Aries, baru-baru ini.

Ia menyebutkan, naskah berbahan kertas daluang berasal dari Kota Cirebon pada abad ke-19. Naskah berisi ajaran agama Islam, tata cara nikah, sorof serta doa-doa.

“Isinya kurang lebih tentang ketauhidan dan mujarobat doa,” tambahnya.

Sedangkan tiga naskah berbahan daun lontar berasal dari Pekanbaru Riau dan Lombok, NTB. Naskah ini tersimpan di Indramayu, kemudian dihibahkan ke Museum Sri Baduga.

Isi naskah tersebut tentang babad darma ayu nagari (Pekanbaru) dan naskah Jatiswara, seorang tokoh leluluhur para wali songo, dan tentang mantra-mantra.

Sebelum dipamerkan, naskah-naskah itu terlebih dahulu akan dikaji, dikonservasi dan direstorasi.

“Hal itu dilakukan takut ada yang mengaku-ngaku sebagai pemilik atau pewarisnya,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga mengantisipasi agar naskah tidak jatuh ke tangan kolektor yang membuat naskah tidak bisa disaksikan publik.

“Kita berupaya melindungi dan mengkonservasi agar naskah-naskah kuna bisa disaksikan oleh masyarakat,” imbuhnya.

Kementerian Agama rencananya akan turut mengkaji naskah-naskah kuna yang berisi ajaran Islam. Terlebih, ada naskah yang berbahasa Arab, sisanya aksara Pegon (Jawa kuno).

“Uniknya, setiap ayat yang ditulis ada terjemahan bahasa Jawa Cirebon,” jelasnya.

(nda)

loading...

Feeds