Sejarah di Balik Nama Jalan Kautamaan Istri Bandung

Pawai obor memperingati peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api (BLA), di Jalan Dewi Sartika,  Bandung,  Kamis (23/3/2017). Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pejuang emansipasi wanita yang turut mengungsi dalam peristiwa BLA. FOTO: Riana Setiawan

Pawai obor memperingati peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api (BLA), di Jalan Dewi Sartika, Bandung, Kamis (23/3/2017). Dewi Sartika merupakan salah satu tokoh pejuang emansipasi wanita yang turut mengungsi dalam peristiwa BLA. FOTO: Riana Setiawan

 

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Dewi Sartika tidak hanya gesit beraksi memperjuangkan kesetaraan kaum hawa. Dia juga pandai berdiplomasi. Ketika aktivitas mengajarnya dimata-matai Belanda, ia mengatasinya dengan argumentasi berani.

Awalnya, ia membuka sekolah informal di belakang rumahnya di Simpangsteg  (kini Kepatihan), Bandung.

Muridnya, anak-anak jelata setempat yang tidak bisa mengakses pendidikan sebagaimana anak-anak kaum priyayi, Eropa, atau Indo.

Kegiatan yang digelar Dewi mengundang kecurigaan kolonial Belanda.

Belanda pun memerintahkan inspektur Pengajaran Wilayah Kabupaten Bandung Cornelis Den Hammer untuk memata-matai aktivitas Dewi yang dicap anak pemberontak.

Baca:

Ibu Kita Dewi Sartika, Sejak Kecil Dicap Pemberontak

Dewi Sartika Sejak Remaja Sudah Membuka Sekolah Lewat Permainan, Dimata-matai Aparat Belanda

Dewi mampu menghadapi kecurigaan penguasa. Kepada Cornelis Den Hammer, ia menjelaskan, kegiatannya bertujuan memajukan kaum perempuan.

Argumentasi itu membuat sang inspektur yakin bahwa aktivitas Dewi tidak berbau hasutan terhadap bumi putra untuk memberontak. Inspektur justru menawarkan pekerjaan kepada Dewi untuk menjadi guru di sekolah Boemi Poetra (sekolah milik Belanda).

Tetapi Dewi justru menolak tawaran menjanjikan itu. Ia teguh memegang prinsip berdiri di kaki sendiri, tidak mau mengandalkan dan tergantung bantuan orang lain, terlebih penjajah Belanda.

Inspektur pun menghormati keputusan Dewi. Diam-diam inspektur mendatangi kantor Bupati Bandung Raden Aria Adipati Martanagara (musuh ayah Dewi Sartika di waktu perebutan kekuasaan) untuk meminda bupati membantu Dewi.

Dewi kembali menggunakan keberanian dan kemampuannya berdiplomasi. Dia menghadap bupati, dan mengungkapkan rencananya mendirikan sekolah. Akhirnya bupati Bandung bisa diyakinkan, dan merestui rencana Dewi.

Maka 16 Januari 1904, Sakola Istri dibangun. Lokasinya untuk sementara di Ruang Paseban Timur Komplek Pendopo, depan Alun-alun Bandung.

Pada masa penjajahan Belanda, mendirikan sekolah kaum perempuan butuh keberanian besar. Selain itu, penghargaan terhadap kaum perempuan di masa itu jauh berbeda dengan sekarang.

Sakola Istri yang didirikan Dewi menjadi sekolah pertama dan tertua khusus untuk perempuan di Indonesia.

Pada tahun pertama, Sakola Istri diikuti 60 murid. Dewi mengajar didampingi kawan seperjuangannya Ibu Poerma dan Ibu Oewit. Pada 1905, minat siswi yang mendaftar semakin bertambah. Ruang kelas pun tidak memadai.

Dewi berencana membangun sekolah baru. Ia menabung untuk membeli tanah dan bangunan. Jerih payahnya membuahkan lahan di Ciguriangweg yang kelak menjadi loksi Sakola Kaoetamaan Istri. Bupati Martanagara turut menyumbang pembangunan sekolah ini.

Pada 1910, Sakola Istri berubah nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Peninggalan sekolah yang dibandung Dewi Sartika kini terletak di Jalan Keutamaan Istri, Bandung, kini namanya SD dan SMP Dewi Sartika. Di Bandung, nama Dewi Sartika diabadikan dalam nama jalan, yakni Jalan Dewi Sartika dan Jalan Keutamaan Istri.

Bersambung….

(imn/Yayasan Dewi Sartika Bandung)

loading...

Feeds

Truk menabrak warung di kawasan Cileunyi.

334 Nyawa Melayang Hingga H+2 Lebaran

POJOKBANDUNG.com- OPERASI Ramadniya 2017 tengah digelar pihak kepolisian. Selain mengamankan lebaran, polisi juga memfokuskan penanganan kelancaran  arus lalu lintas baik …