Ibu Kita Dewi Sartika, Sejak Kecil Dicap Pemberontak

SD dan SMP Dewi Sartika, Jalan Kautamaan Istri No.12, Balonggede, Kecamatan Regol, Bandung.

SD dan SMP Dewi Sartika, Jalan Kautamaan Istri No.12, Balonggede, Kecamatan Regol, Bandung.

 

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Bicara pahlawan perempuan dan emansipasi wanita, tak lepas dari Kartini. Namanya diabadikan lewat Hari Ibu yang diperingati tiap 21 April, hari lahir Kartini (1879).

Tiap peringatan hari ibu, anak-anak maupun dewasa banyak yang memakai kebaya. Lagu “Ibu Kita Kartini” pun dinyanyikan. Kartini semakin populer setelah sastrawan Pramoedya Ananta Toer membuat novelnya (Panggil Aku Kartini Saja Genre, 1962).

Namun bicara pahlawan perempuan dan emansipasi wanita, tidak hanya Kartini saja. Masih banyak “ibu kita” lainnya yang gagah berani memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan. Salah satunya Dewi Sartika.

Dewi Sartika lahir di Bandung 4 Desember 1884, lima tahun setelah Kartini. Peninggalan Dewi Sartika hingga kini masih bisa ditemui di Paris van Java, antara lain di Jalan Keutamaan Istri. Di sana ada SD dan SMP Dewi Sartika, tepatnya Jalan Kautamaan Istri No.12, Balonggede, Kecamatan Regol, Bandung.

Tan Malaka di Gedung DPR, Imuwan Belanda Berkaca-kaca

Berkat KAA, Negara di Asia- Afrika Diakui Dunia

Sekolah dua lantai yang berdiri di belakang Pendopo Kota Bandung itu diurus Yayasan Dewi Sartika Bandung. Untuk mengenang jasa sang pendiri, pihak sekolah berusaha mengabadikan penginggalan-peninggalan Dewi Sartika.

Antara lain, membuat buku ringkasan tentang perjalanan hidup dan kiprah Dewi Sartika. Buku sederhana foto kopian itu dibuka dengan pengantar sederhana.

“Pada kesempatan ini kami mengetengahkan riwayat hidup seorang perlopor gerakan Kebangkitan Perempuan Indonesia dan perintis jalan emansipasi wanita khususnya di Jawa Barat dan Indonesia umumnya…,” demikian pengantar buku dengan jilid foto Dewi Sartika.

Disebutkan, Dewi Sartika mendapat Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Ir Soekarno pada 1 Desember 1966. Jasa Dewi sangat besar, khususnya bidang pendidikan bagi kaum perempuan.

Dewi Sartika adalah anak kedua dari pasangan Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Saat Dewi Sartika lahir, Somanagara menjabat Patih Afdeling Mangunreja (Kabupaten Tasikmalaya).

Patih adalah jabatan administrasi di bawah Pemerintah Kolonial Belanda. Dewi Sartika keturunan menak alias “darah biru”. Ibunya masih keturunan bupati legendaris Bandung, Raden Aria Adipati Wiranatakusumah IV (1946-1874) yang berjuluk Dalem Bintang.

Sebagai turunan darah biru, Dewi Sartika bisa sekolah di Eerste Klasse School—sekolah Belanda khusus untuk anak-anak Eropa dan Indo.

Namun, sebuah peristiwa yang disebut “Prahara Kabupaten Bandoeng 1893” menjegal karier akademik Dewi Sartika yang baru kuncup. Saat itu usia Dewi baru sembilan tahun.

Prahara itu berupa rebutan jabatan Bupati Bandung setelah Boepati RA Kusumadilaga wafat. Prahara terjadi di saat Raden Somanagara menjabat patih Bandung. Belanda menganggap Somanagara bersalah membantu pemberontak.

Orang tua Dewi Sartika pun dibuang ke Ternate, meninggalkan Dewi Sartika di Bandung. Tak hanya itu, harta kekayaan keluarga disita.

Peristiwa itu membuat Dewi Sartika dicap anak pemberontak. Akibatnya, sekolah-sekolah tertutup baginya. Dewi Sartika putus sekolah dari Eerste Klasse School.

Bersambung….

(imn/Yayasan Dewi Sartika Bandung)

loading...

Feeds