Dua Ruang Kelas Teduh Peninggalan Dewi Sartika

Ruang kelas peninggalan Dewi Sartika di SD dan SMP Dewi Sartika, Bandung. Foto: Imah H

Ruang kelas peninggalan Dewi Sartika di SD dan SMP Dewi Sartika, Bandung. Foto: Imah H

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Satu peninggalan Dewi Sartika yang bisa dijumpai kini, terletak di Jalan Kautamaan Istri. Di jalan tersebut berdiri sekolah dua lantai, SD dan SMP Dewi Sartika.

Bangunan dua lantai dengan gerbang hijau itu tentu berbeda dengan aslinya. Dulu, desain bangunan mirip panggung. Kini sudah modern.

Untuk bisa melihat desain asli, sekolah yang saat ini dikelola Yayasan Dewi Sartika itu masih menyisakan dua ruang kelas orisinalnya.

Dua ruang kelas itu menghadap lapangan yang dikelilingi sejumlah pohon dan bunga. Suasananya teduh dan cukup asri.

Luas dua ruang kelas peninggalan Dewi Sartika masing-masing sekitar 7×6 meter. Modelnya berbeda dengan ruang kelas modern yang cenderung pengap.

Baca Juga:

Ibu Kita Dewi Sartika, Sejak Kecil Dicap Pemberontak

Dewi Sartika Sejak Remaja Sudah Membuka Sekolah Lewat Permainan, Dimata-matai Aparat Belanda 

Jendela-jendela kelasnya terbuat dari kawat, bukan kaca, sehingga sirkulasi udara terjaga. Langit-langit dibentuk menyatu dengan genteng, terasa lapang.

Kayu-kayu penyangga atap membentang membentuk kuda-kuda, dua lampu neon menggantung di tengah-tengahnya. Tampak klasik.

“Ruang ini pernah direnovasi, tapi menyesuaikan dengan aslinya. Dulu, kayu penyangga atanya 12 meter tanpa sambungan. Sekarang kan mana ada kayu tanpa sambungan,” tutur Staf Tata Usaha SD dan SMP Dewi Sartika, Sulaeman, kepada Pojokbandung.com, Kamis (20/4/2017).

Meja dan kursi juga masih peninggalan zaman baheula, ada tempat penyimpanan tintanya. Menurut Sulaeman, meja-meja tersebut kadang suka dipinjam untuk pameran terkait sejarah.

Di ruang kelas itu terdapat beberapa foto Dewi Sartika, juga suaminya, Raden Agah Kanduruan Soeriawinata.

Sejumlah pejabat nasional maupun lokal pernah mengunjungi sekolah tersebut. Foto mereka dipajang, antara lain Linda Amalia Sari, Menteri Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia zaman Presiden SBY, politikus senior Golkar Popong Otje Djundjunan, dan lain-lain.

Mereka datang ketika peringatan hari lahir Dewi Sartika 4 Desember 1884.

“Tiap 4 Desember kita punya hajatan wajib yang harus kita peringati. Banyak tamu yang sering ke sini saat peringatan hari lahir Ibu Dewi,” katanya.

Tiap Hari Kartini pun, kata dia, tidak jarang warga yang sengaja mendatangi sekolah tersebut, termasuk wartawan.

Baca Juga:

Sejarah di Balik Nama Jalan Kautamaan Istri Bandung

Dewi Sartika Berjejaring dengan Adik Kartini, Diundang HOS Tjokroaminoto

“Kita selalu berusaha memeringati Ibu Dewi, apalagi ini kan satu-satunya peninggalan sejarah,” katanya.

Dulu, SD dan SMP Dewi Sartika bernama Sakola Istri, kemudian berubah menjadi Sakola Kaoetamaan Istri, dan Sakola Raden Dewi.

Saat ini, SD dan SMP Dewi Sartika memiliki 640 murid yang dididik 32 guru. Sulaeman yang sudah 30 tahun kerja di sekolah tersebut berharap, semua pihak turut melestarikan peninggalan Dewi Sartika.

Saat ini sekolah kekurangan alat kesenian. Sementara Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak menutupi operasional sekolah. “Seharusnya BOS ditambah,” kata pria berkaca mata ini.

Selain itu, Sulaeman berharap ada tunjangan khusus terhadap guru maupun pegawai tata usaha sekolah swasta. Tanpa pegawai tata usaha, aktivitas sekolah sulit berjalan.

(imn/pojokbandung)

loading...

Feeds