Dewi Sartika Sejak Remaja Sudah Membuka Sekolah Lewat Permainan, Dimata-matai Aparat Belanda

Ruang kelas peninggalan Dewi Sartika di SD dan SMP Dewi Sartika, Bandung. Foto: Imah H

Ruang kelas peninggalan Dewi Sartika di SD dan SMP Dewi Sartika, Bandung. Foto: Imah H

 

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Sejak orang tuanya dibuang ke Ternate karena dituding dalang pemberontakan, hidup Dewi Sartika di Bandung memprihatinkan.

Dewi pun ikut uwaknya Raden Demang Suriakarta Adiningrat yang menjadi Patih Afdeling Cicalengka. Di pinggiran Bandung itu, ia tumbuh jadi gadis remaja yang gelisah. Usianya 18 tahun.

Di Cicalengka, Dewi bersinggungan dengan kehidupan sulit yang harus dijalani perempuan, mulai mencuci, masak, singkatnya cukup sebagai penghias dan pelaksana rumah tangga saja.

Waktu itu, Dewi satu-satunya gadis yang bisa baca tulis. Ia sering dimintai tolong keluarga dan tetangga untuk menulis dan membaca surat. Ia gelisah akan nasib kebanyakankan kaumnya yang tidak bisa baca tulis.

Ia bertekad mengubahnya, dengan langkah kecil tapi cerdas. Ia melakukan pendekatan kepada rekan-rekannya dengan permainan guru dan murid. Permainan ini dilakukan di belakang dapur kepatihan. Ia sendiri yang menjadi gurunya.

Peserta kelas permainan ini anak-anak  jelata di sekililing kepatihan. Proses belajar hanya menggunakan alat sederhana, batu tulis dan genteng sebagai buku. Ia menerangkan dengan alat presentasi dari papan tulis bekas.

Tahun 1902, Dewi kembali ke Bandung mengingat ibunya kembali dari tempat pembuangan di Ternate. Ayahnya wafat di sana. Dewi adalah anak kedua dari pasangan Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Saat Dewi Sartika lahir, Somanagara menjabat Patih Afdeling Mangunreja (Kabupaten Tasikmalaya). Namun pemerintah Belanda menuduhnya dalang pemberontakan. Sehingga orang tua Dewi dibuang ke Ternate.

Baca juga:

Ibu Kita Dewi Sartika, Sejak Kecil Dicap Pemberontak    

Di Bandung, Dewi tinggal di Simpangsteg (kini belakang Kings Plaza Kepatihan, Bandung) bersama ibunya. Sepeninggal ayahnya, kehidupan kian sulit. Semua hartanya disita oleh Belanda.

Namun kondisi sulit itu menguatkan Dewi bahwa perempuan juga makhluk kuat, tidak boleh tergantung sepenuhnya pada suami, keluarga atau kebaikan orang lain. Ia yakin, perempuan harus sanggup berdiri di atas kaki sendiri.

Di tengah keterbatasan itu ia mulai begerak dengan mengajarkan kepandaian perempuan, misalnya mengajarkan cara memasak berbagai menu makananan, jahit menjahit, dan lainnya.

Dewi yang mempelajari bahasa Melayu, bahasa Belanda, dan ilmu berhitung yang kemudian diajarkan ke murid-muridnya yang merupakan anak-anak sebayanya.

Proses belajar itu dilakukan di belakang rumahnya di Simpangsteg. Sabagai upah dari upaya mulia itu, Dewi mendapat beras, garam, dan lauk pauk.

Namun kegiatan yang digelar Dewi mengundang kecurigaan kolonial Belanda. Aktivitas pendidikan ini diamati diam-diam tanpa sepengatahuan Dewi dan ibunya.

Belanda memerintahkan inspektur Pengajaran Wilayah Kabupaten Bandung Cornelis Den Hammer untuk memata-matai aktivitas “si anak pemberontak”.

Dewi tidak takut. Ia berusaha menjelaskan, bahwa kegiatannya hanya informal. Tujuannya agar perempuan mampu tampil pede dan tidak tergantung pada suami.

Bersambung….

(imn/Yayasan Dewi Sartika Bandung)

 

loading...

Feeds

GIGIT KUKU JARI

Suka Gigit Kuku? Ini Dampak Negatifnya

POJOKBANDUNG.com- MENGGIGIT kuku jari adalah salah satu bentuk dari ketidakseimbangan emosional. Kendati cukup umum dilakukan, namun onychophagia, istilah medisnya, ternyata …