Dewi Sartika Berjejaring dengan Adik Kartini, Diundang HOS Tjokroaminoto

Dewi Sartika. Foto: disparbud.jabarprov.go

Dewi Sartika. Foto: disparbud.jabarprov.go

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Gerakan yang dilakukan Dewi Sartika di bidang pendidikan mendapat perhatian dari HOS Tjokroaminoto, guru para tokoh pergerakan nasional antara lain Soekarno dan Tan Malaka.

Beberapa tahun setelah mendirikan sekolah resmi pertamanya 16 Januari 1904, Dewi Sartika menikah dengan Raden Agah Kanduruan Soeriawinata yang merupakan guru sekolah rakyat Eerste Klasse School Karang Pamulang, Bandung.

Agah juga salah satu pendiri cabang Sjarekat Islam di Bandung. Sjarekat Islam merupakan organisasi pergerakan yang didirikan Tjokroaminoto.

Di tengah kesibukannya sebagai guru, Dewi juga membangun jaringan dengan tokoh pergerakan nasional. Ia sengaja berkunjung ke RA Kardinah, adik kandung RA Kartini di Kendal. Saat itu, RA Kartini yang lebih tua lima tahun dari Dewi Sartika sudah wafat.

Kunjungan tersebut disebut sebagai membangun jaringan. Dewi juga mempelajari ilmu membatik untuk diajarkan ke murid-muridnya di Bandung.

Sementara Sakola Istri yang didirikan Dewi Sartika semakin bersinar. Sekolah yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri itu bahkan mendirikan cabang di Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cianjur, Purwakarta, Sukabumi.

Baca juga:

Ibu Kita Dewi Sartika, Sejak Kecil Dicap Pemberontak 

Dewi Sartika Sejak Remaja Sudah Membuka Sekolah Lewat Permainan, Dimata-matai Aparat Belanda

Sejarah di Balik Nama Jalan Kautamaan Istri Bandung 

Berbagai media yang terbit di Bandung kala itu, seperti De Preanger Bode, Sipatahoenan, Poetri Hindia, Medan Prijaji (surat kabar yang didirikan tokoh pers nasional Tirto Adhi Soerjo) kerap memberitakan kegiatan sekolah Dewi Sartika.

HOS Tjokroaminoto mengagumi perjuangan Dewi Sartika. Raja Jawa Tanpa Mahkota ini disebutkan pernah datang ke acara sekolah Dewi Sartika. Selanjutnya, Dewi Sartika diundang ke Soarabaja (Surabaya) untuk berceramah di depan massa Syarekat Islam.

Sekolah yang didirikan Dewi Sartika terus mengalami kemajuan. Memasuki tahun ajaran baru 1913, jumlah siswa Kaoetamaan Istri mencapai 251 siswi yang dididik 12 guru profesional.

Pada 1929, ketika sekolah ini genap berusia 25 tahun, Belanda menghadiahkan gedung baru permanen. Nama Kaoetamaan Istri berubah menjadi Sakola Raden Dewi.

Pada peringatan 35 tahun berdirinya Sakola Raden Dewi, Dewi Sartika mendapat bintang emas dari pemerintah Hindia Belanda atas jasanya bidang pendidikan untuk kaum perempuan bumi putra.

Dewi Sartika seolah mengikuti jejak leluhurnya, Raden Adipati Aria Wiranatakusumah IV, bupati Bandung legendaris yang juga mendapat penghargaan prestisius dari pemerintah Belanda sehingga berjuluk Dalem Bintang.

Penghargaan yang diraih Dewi mendapat perhatian kalangan luas. Namun berita duka terjadi 25 Juli 1939, suami tercintanya meninggal.

Petaka lain muncul saat Belanda menyerah kepada Jepang, Maret 1942. Jepang yang mengklaim saudara tua justru menjajah lebih bengis lagi. Sakola Raden Dewi ditutup. Dewi Sartika dam semua guru dipecat, diganti guru-guru Jepang.

Pasca-proklamasai, situasi tidak membaik. Dewi Sartika turut mengungsi saat Peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946 yang menentang agresi militer Belanda. Ia mengungsi ke Ciparay, Bandung selatan, dalam keadaan sakit.

Pengungsian terus dilakukan ke Garut dan Ciamis. Di sana ia meninggal akibat sakit keras, 19 September 1947 jam 9 pagi di usia 63.

Bersambung….

(imn/Yayasan Dewi Sartika Bandung)

loading...

Feeds