41 Komunitas dan 100 Seniman Bandung Bergerak, #SaveXpalaguna

Sejumlah pegiat kebudayaan yang tergabung dalam Jagaseke saat berziarah ke makam pendiri Kota Bandung, RD Adipati Wiranatakusumah II Di Kawasan Dalem Kaum, Kota Bandung, Minggu (12/3). Kegiatan dalam rangka menolak pembangunan eks Palaguna. Foto: RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG

Sejumlah pegiat kebudayaan yang tergabung dalam Jagaseke saat berziarah ke makam pendiri Kota Bandung, RD Adipati Wiranatakusumah II Di Kawasan Dalem Kaum, Kota Bandung, Minggu (12/3). Kegiatan dalam rangka menolak pembangunan eks Palaguna. Foto: RIANA SETIAWAN/RADAR BANDUNG

POJOKBANDUNG.com, BANDUNG – Tak kurang dari 41 komunitas dan lebih dari 100 seniman terlibat Gerakan Bersama Aliansi Warga Bandung #Savexpalaguna.

Aksi kebudayaan ini menolak pembangunan mal, hotel dan rumah sakit di lahan bekas Palaguna, Alun-alun Bandung.

“Warga menuntut agar lahan tersebut dijadikan hutan kota dan cagar budaya,” kata Pupuhu Aliansi Warga Bandung, Herry Dim, melalui siaran pers yang diterima Pojokbandung, Senin (13/3/2017).

Gerakan dengan tagar (#) SaveXpalaguna itu berlangsung tiga hari di area lahan eks Palaguna dan Kawasan Alun-alun Bandung, 12, 14, 15 Maret 2017.

Gerakan ini mendapat dukungan pula dari komunitas yang memiliki jejaring internasional seperti “Profauna” (Protection of Forest & Fauna), jejaring International Day of Action for Rivers, dan Greenpeace Indonesia.

Herry Dim yang juga seniman lukis, mengatakan aksi warga ini sepenuhnya inisiatif “kanyaah” setiap pendukung dengan swadaya pribadi atau pun komunitasnya masing-masing. Aksi ini mengusung motto: “Dari Kita, Oleh Kita, untuk Warga Bandung” atau “Bandung nu Aing tapi Ulah Kumaha Aing”.

“Tujuan aksi kebudayaan adalah membangun kesadaran pemerintah, publik dan perusahaan untuk peduli dan sadar terhadap lingkungan, sungai sebagai peradaban, dan kehidupan manusia,” katanya.

Aliansi tersebut, kata dia, pada dasarnya mengajak semua pihak untuk menjaga, merawat, dan menyelamatkan sungai, dan alam Bandung pada umumnya. Aliansi pun menyuarakan pentingnya hutan kota atau ruang terbuka hijau sebagai paru-paru perkotaan atau pun perdesaan.

“Kami bergerak untuk menjaga berbagai ancaman kerusakan dan pencemarn akibat pembangunan ekonomi yang rakus dan eksploitatif,” ujarnya.

Gerakan ini muncul sebagai rekasi terhadap rencana perusahaan swasta, Pemprov Jabar dan Pemerintah Kota Bandung yang akan membangun mal, hotel, dan rumah sakit di lahan eks Palaguna.

“Hal itu jelas nantinya akan menjadi milik privat atau bukan lagi menjadi milik publik,” tukasnya.

loading...

Feeds